Kamis, 09 Juli 2015

Next: Orang-orang Keras Kepala di Pinggir Lapangan Bola

Orang-orang Keras Kepala di Pinggir Lapangan Bola

Orang-orang Keras Kepala di Pinggir Lapangan Bola, info terbaru dari Bolapro Orang-orang Keras Kepala di Pinggir Lapangan Bola untuk anda yang Pro Bola, Berikut ini adalah berita sepak bola terbaru dengan judul Orang-orang Keras Kepala di Pinggir Lapangan Bola, selain itu masih banyak lagi berita bola lainnya pastinya update terbaru dan sedang hangat untuk dibicarakan. Dan dibawah ini adalah hasil skor akhir dan klasemen sementara selengkapnya

Nama Sarri relatif asing, bahkan sampai ketika dia ditunjuk menangani Napoli baru-baru ini. Sarri baru mulai dikenal ketika menangani Empoli pada musim 2014/2015. Prestasi Empoli memang tidak luar biasa, tapi apa yang ditawarkan Sarri dari sisi filosofilah yang menarik perhatian Napoli.

Tidak lama setelah ditunjuk menangani Napoli, Sarri dengan tegas berkata: “Saya tidak akan berubah hanya demi Napoli.”

Dalam sebuah artikel yang pernah dirilis Italian Football Daily, Sarri diceritakan pernah bekerja sebagai karyawan sebuah bank. Namun, dia menganggap hari-harinya monoton sehingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya itu. Sarri pun beralih menjadi pelatih sepakbola dan biasa menghabiskan 13 jam sehari untuk menganalisis lawan.

Ketekunannya itulah yang menghadirkan beberapa hasil mengejutkan di Serie A musim kemarin. Sebagai tim yang diprediksi hanya ingin bertahan di Serie A, Empoli sejatinya bermain aman dan berusaha untuk sekadar tidak kalah. Tapi, Empoli-nya Sarri berbeda. Situs statistik WhoScored mencatat, secara rata-rata Empoli memenangi 54% penguasaan bola dan melepaskan 13,3 shot per laga.

Ya, sama seperti Bielsa ataupun Zeman, Sarri tidak peduli siapa lawan yang dihadapi. Baginya hanya ada satu gaya main, yakni menyerang, dan dia tidak akan mengubahnya hanya untuk memuaskan hasrat Napoli. Jika Napoli ingin sukses, maka sukses itu harus melalui caranya.

Ketika Empoli dikalahkan Juventus 0-2 musim lalu, Sarri masih sempat-sempatnya bertepuk bangga. “Kami sudah bekerja bersama selama tiga tahun. Kami punya identitas kami sendiri. Meskipun kami terdampar di dasar klasemen, kami harus bermain dengan gaya sendiri,” kata Sarri.

Dengan segala hal yang dimilikinya itu, tidak heran jika AC Milan juga sempat membidiknya untuk menggantikan Filippo Inzaghi. Sarri punya segala kesombongan dan tidak minder untuk menangani tim besar. Identitas tersebut selalu dijaganya sejak ia masih menangani tim kecil seperti Faellaese. Bedanya –mungkin–, seiring bertambahnya umur, dia menjadi lebih sabar.

“Saat ini saya sedang jadi perhatian orang, mereka akan datang ke tempat latihan kami di Empoli dan mencatat metode kami. Mungkin saja nantinya saya tak lagi jadi perhatian, tapi sudah pasti cara kerja saya takkan berubah. Saya cuma berharap itu juga bisa diterapkan di Napoli.”

“Saya masih merokok sama seperti sebelumnya dan akan ke lapangan dengan mengenakan tracksuit. Dalam aspek tersebut saya tidak berubah sejak saya melatih di Faella. Mungkin saya lebih sabar daripada sebelumnya, tapi itu karena umur. Saya tidak ‘menang’ karena sudah menjadi pelatih Napoli. Saya menang di hari saya menyadari bisa menjadi pelatih untuk mencari nafkah,” bebernya.

Bersyukurlah Napoli, jika akhirnya ego dan ke-keras-kepala-an Sarri akhirnya membuahkan sukses untuk mereka. Bersyukur jugalah sepakbola bahwa keberhasilan tidak melulu didominasi oleh mereka yang pragmatis.

====

*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza

(dtc/din) Sumber: detiksport



Untuk anda yang , | Pro Bola Orang-orang Keras Kepala di Pinggir Lapangan Bola, Sumber: Berita Bola dipublish oleh Bolapro untuk anda yang ProBola

Tidak ada komentar:

Posting Komentar